Minggu
Perjalanan
Aku ingin perjalanan ini akan membawa (meski hanya) sebuah letupan kecil semangat baru, daripada sebuah kesedihan baru.
Sampai bertemu kembali bulan Januari, 2018.
(Bukan) Catatan Galau
Sekali lagi aku tegaskan, ini (bukan) catatan galau. Hanya saja, aku sering bertanya pada diriku sendiri, apakah semua orang tua kalian diluar sana punya kekhawatiran yang sama dengan orang tuaku?
Kosong
Sepi, teramat sepi. Sunyi, lebih sunyi dari apapun. Perasaan kosong,
entah kenapa aku tidak tahu. Pernahkah kamu merasa terlalu amat sangat sepi
hingga ingin menangis, menjerit, dan berteriak untuk mengurangi beban dan
perasaan sepi yang membelenggu ini? Kadang aku berpikir, di dunia ini adakah
orang yang mengalami hal yang sama seperti yang kurasakan? Atau hanya aku
seorang diri yang merasakan hal paling menyedihkan ini? Atau karena aku tidak
punya orang untuk diajak bicara? Atau karena aku terlalu jauh dari rumah?
(entahlah~aku benar-benar sendirian~dan sangat menyiksa~sepertinya aku perlu merubah pola hidup atau menghilang saja?)
(entahlah~aku benar-benar sendirian~dan sangat menyiksa~sepertinya aku perlu merubah pola hidup atau menghilang saja?)
Aku kini bisa mengambil kesimpulan bahwa hal yang paling
menyedihkan di dunia ini adalah kesepian, rasa tidak memiliki dan dimiliki oleh
apapun. Bukan tidak memiliki uang atau harta benda yang membuatku sedih, tapi rasa
kesepian adalah kesakitan yang lebih buruk dari itu semua. Bahkan lagu yang
sengaja aku putar keras-keras dan menggaung di seisi dalam kamarku tidak bisa
membendung rasa sepi yang merundung.
Kata orang, mencurahkan hati, perasaan, dan pikirin melalui
tulisan bisa mengurangi beban, maka dari itu aku mulai menulis lagi. Karena
perasaan dan isi hati ini belum bisa aku ceritakan pada orang lain. Belum bisa
aku ceritakan karena belum menemukan orang yang tepat untuk berbagi. Belum bisa
aku ceritakan karena tidak semua orang akan peduli tentangku.
Kata orang, kamu harus memiliki kepercayaan yang kuat, keimanan yang
teguh terhadap takdir Allah yang telah digariskan untukmu, dan untuk tiap-tiap
makhluk agar hatimu tenang, damai, tidak resah, gelisah apalagi sepi. Dan tidak
perlu pula mengkhawatirkan masa depan karena sudah digariskan. Memang ini berat
dan kamu harus tahan. Pada akhirnya ada hikmah dibalik itu semua.
Sejujurnya aku (mungkin) sudah tahu
cara mengatasi kesepianku. Mendapatkan kembali sumber endorphin terbesarku. Kembali
pulang dan berkumpul bersama orang-orang yang kusebut ‘rumah’ adalah
jawabannya. Tapi satu hal yang sudah aku pilih dan aku mulai di sini harus diselesaikan. Jadi aku
bisa apa? (Hang on)
Langganan:
Komentar (Atom)
Intimate Wedding
Mau flashback sedikit ke bulan Desember tahun lalu. Tahun 2023. Hari dimana adik perempuanku satu-satunya melangsungkan akad nikah di rumah ...
-
Suatu hari nanti aku ingin bahagia bersama orang lain. Bukan orang asing yang aku tidak mengerti. Orang lain yang sanggup memahamik...
-
--> Kegiatan rutin kalo mw lebaran y bersih2 rumah…heheh, itu udh jadi tradisi dikeluarga gue tiap taon. Hari ini pas banget hari min...
-
Aku tertahan. Di suatu tempat, entah di mana. Semua putih. Terlihat putih. Bahkan tak ada warna selain putih. Begitu terang, menyilaukan ma...

