Rabu

Dulu, aku benci hujan


Dulu, hujan buatku adalah disaster
Aku selalu mengumpat "Tuhan, kenapa kau turunkan hujan? Semua jadi basah kan? Becek, lembab, nggak enak gini. Aku benci hujan."
Ketika hujan aku tidak bisa melihat awan putih dan langit biru kesukaanku.
Aku ingin dunia selalu cerah tanpa awan mendung hitam yang terkadang membuatku takut.
Tapi, entah kenapa diatas semua hal kebencianku tentang hujan, ada hal kecil yang selalu kunanti-nanti saat hujan reda. Ya, pelangi.

Kini, sekian waktu berlalu, aku mulai mengerti kenapa Tuhan menurunkan hujan.
Hujan ada untuk Bumi kekasihnya. Ia menumpahkan bulir-bulir air yang dingin untuk membasuh keringnya Bumi. Sama sepertiku yang kini selalu merindukan hujan.
Aku bisa merasakan dinginnya angin yang berhembus dan bersenyawa bersama uap air.
Menyaksikan langit biru kesukaanku yang mendadak berubah gelap. Tak selamanya langit harus biru kan? terkadang jingga dan terkadang hitam
Ketika bulir-bulir air mulai turun dari langit, aku ingin menari di bawahnya. Menikmati hujan dan menghirup aroma Bumi yang menguap. Dan menunggu pelangi muncul.

Hujan membuatku belajar tentang arti sebuah lelah. Ketika hujan turun, kau pasti butuh persinggahan kan? Menepi sejenak dan melindungi dirimu dari dinginnya air. Berada di dalam kamar yang hangat bersama secangkir coklat panas, itu pilihan yang bagus.
Hujan juga membuatku belajar tentang arti melepaskan. Melepaskan, merelakan, atau menyimpan sejenak beban-bebanku. Seperti hujan yang meluruhkan debu-debu jalanan. Menunggunya reda. Dan kemudian pasti ada terang setelahnya. Langit, pelangi, dan matahari. Pasti.


Catatan Akhir Oktober
Welcome rainy season :)

Senin

Hey, apa kabar ceria?


Kau baik-baik saja kan?
Kenapa tidak pernah menyapaku lagi?
Kenapa tidak pernah menghampiriku lagi?
Kenapa kau hanya berlalu begitu saja di depanku dan pergi?

Kau sudah tak lagi merengkuh tanganku
Mengajakku berlari di padang savana itu
Membagi tawa dan membagi mimpi

Kini yang ada hanya si murung
Mengajakku berbagi perihnya bersama
Di sudut kamar bersama air mata

Hey, ceria!
Kapan kau kembali?
Aku rindu pada hidupku yang dulu
Dimana tak ada si murung dan air mata
Dimana tak ada kekhawatiran dan keresahan
Hanya ada kau, ceria.




Selasa

TUHAN, peluk mimpiku


TUHAN, aku tahu mungkin ini gila.
Karena aku tahu pasti, mewujudkan mimpi tak semudah Paulo Coelho quotes.
Buktinya, semua unsur semesta tidak berkonspirasi membantuku?

TUHAN, terkadang aku takut menjelang hari depanku.
Aku takut kedinginan saat di tengah jalan, tanpa jaket tebal yang menyelimutiku.
Aku takut panasnya matahari akan membuatku tak berani mendongak ke atas lagi.
Aku takut tersesat di tengah jalan, karena begitu banyak persimpangan yang aku lewati.
Hingga aku tak tahu kapan harus berbelok atau lurus saja?

TUHAN, aku tahu mimpi ini terlalu indah untuk kugapai.
Aku juga tahu bahwa detak waktu terus membulat, mengantarkanku melewati ribuan hari, ratusan bulan, dan puluhan tahun.
Satu hari dalam hidupku tak selalu mudah.
Selalu ada shit and happy things happen.
Tapi, kumohon izinkan mimpi ini nyata.
TUHAN, peluk mimpiku.


CatatanGadisPencariArah~NADMR

Intimate Wedding

Mau flashback sedikit ke bulan Desember tahun lalu. Tahun 2023. Hari dimana adik perempuanku satu-satunya melangsungkan akad nikah di rumah ...